Senin, 26 September 2016

Part II - Batik Solo Carnival 2016

Hay guyzz..

Menyambung dengan pada Part I – Batik Solo Carnival 2016, kali ini aku akan mengulik kembali tentang keseruan pada moment Batik Solo Carnival 2016.

Setelah  sebelumnya kami melakukan perjalanan ke kebun teh kemuning sekitar 2 jam kami berwisata alam memandangi kebun teh tsb, kami pun menikmati hasil perkebunan teh yaitu mencicipi teh yang segar dan hangat yang berada di Kaki Gunung Lawu, kami pun tak pantang lelah untuk trip selanjutnya. Kami kembali berjalan untuk ke Candi Cetho yang berada di Kab. Karanganyar –Jawa Tengah. Candi ini memiliki ukuran panjang 190m lebar 30m dan berada di kentinggian 1496 m dari permukaan air laut.

Setelah 2 jam perjalanan akhirnya kami pun tiba, cukup lama dan ketika kami menuju kesana cuaca pun mendung dan kabut putih pun mulai turun tapi untung saja masih ada mentari yang bersinar :))) cerah. Untuk menuju Candi Cetho membutuhkan sekitar 1 jam dengan mobil. Wisata daerah ini agak sepi mungkin karna minimnya akomodasi pada rute tsb. Bila ingin ke candi tsb kita wajib menggunakan kendaraan pribadi ataupun menyewa.


Welcome Gapura Candi Cetho


Tettttottt..tt akhirnya tibalah kami di Candi Cetho, untuk masuk kedalam tempat wisata ini dikenakan biaya Htm sekitar Rp.10.000 untuk hari biasa. Pada pintu masuk gapura candi ini, kita wajib mengenakan kain yang dililitkan seperti mengenakan rok namanya kain Kampuh, tak ada perbedaan mengenakan kain ini untuk pria atau wanita dan biasanya untuk mengenakan kain tsb dipakaiankan oleh petugas yang berjaga disana. Biaya untuk kain tersebut hanya dikenakan biaya seikhlasnya pada kotak yang tersedia disana guyzz.

model memakai Kain Kampuh

Ketika memasuki wisata candi cetho sangatlah terasa adat kebudayaan Hindu dengan keagungan serta kemangisan candi cetho, berudara sejuk, sekeliling pun sangat terasa aroma dupa mengelilingi sekitaran candi tsb yang cukup menyedihkan diwilayah candi ini kerap berselimut kabut sehingga bila ingin berkunjung kesana dipastikan datang pagi agar cuaca cerah dapat menikmati pemandangan serta foto-foto dengan cuaca cerah. Untuk berfoto sangatlah menjadi bahan referensi karna tempat ini sepi dari keramaian *untuk yang hoby self-camera/ootd seperti aku sangatlah cocok :))) *

Di pintu masuk kita akan menaiki anak tangga yang cukup banyak dengan kemiringan karena ada dibukit gunung jadi bila kesana diwajibkan mempunyai semangat serta tenaga extra :)) apalagi untuk usia lanjut yaa .. sungguh perlu pegangan kuat untuk menaikin anak tangga tsb. Anyway pada welcome gapura kita langsung disungguhkan patung.

Candi Cetho 
Lanjut masuk ke dalam Candi Cetho, terlihat banyak sekali prasasti peninggalan sejarah yang kuat serta ada juga prasasti tanpa kepala ataupun badan yang hanya disana *konon katanya ada beberapa yang hilang serta dijual* dan untuk melestarikannya dengan penempatankan penyebaran prasasti ditempat wisata keagaman seperti salah satunya disini.

Salah satu prasasti Candi Cetho 

Pada salah satu gambar diatas ini ada beberapa peninggalan prasastinya yang terpecah dan hanya dibuat tumpukan abstrak walaupun ada juga yang bentuknya sempurna.
Candi Cetho 

Dan ketika selama 1.5 jam kami menikmati wisata Candi Cetho, keadaan cuaca sudah tidak mendukung sinar cemerlang matahari mulai redup dan awanpun turun padahal masih jam 14.00 wib. Kami pun langsung bergegas turun dari anak tangga dengan perasaan sedikit kecewa ..huftt L karena belum berfoto sampai puncak candi.

Okeyy... lanjutlah destinasi kami selanjutnya untuk mengisi perut yang sudah berteriak meminta bertanggungjawaban atas stamina kami yang sudah loyo :((( .



Anyway sepertinya kami kalap atas makanan ini semua, semua makanan hampir ludes tak bersisa sedikitpun. Akhirnyaa setelah makan dan kembali changer tenaga beberapa lama kemudian kami lanjut ke hotel untuk mengumpulan tenaga kami yang hilang serta bau-bau badan yang sangat lengkett.. :p hihi

Lanjut hari terakhir di kota Solo (walaupun sedih ya cin, pengennya mah masih di Solo liburan nikmati wisata alam yang indah dan sejuk ). Anyway Sinar mentari #keepsmile J yang cerah bersinar meliputi kawasan kota solo tepatnya pukul 07.00 wib kami berkumpul kembali serta breakfast bersama and masih standby dilounge hotel, 5 menit dari waktu ditentukan kami menuju destinasi selanjutnya Pura Mangkunegara.

Pura Mangkunegara - Solo 

Pura mangkunegara layaknya keraton namun ukuran yang lebih kecil. Bangunan ini terbuat dari kayu jati utuh walaupun bangunan bersejarah masih kokoh lho bangunan ini serta belum ada perubahan yang signifikan dari peninggalan sebelumnya. Ketika kita masuk ke dalam untuk berwisata dikenakan biaya Htm Rp.12.000/turis lokal dan untuk group ditemani satu tourguide wanita yang menemani didalam area.
Pada welcome pura ada dua ekor patung singa yang menyambut kedatangan pada turis seperti kami dan mereka pun termasuk yang menjaga pura mangkunegara *mistik banget yehh :)))  * .



sisi timur Pura Mangkunegara

Sisi timur Pura Mangunegara

Dahulu bekas sekolah dasar

Halaman utama Pura Mangkunegara



Dan ini beberapa spot yang cukup bagus di Pura mangkunegara ketika kita berada ditempat ini sangat teduh,tenang, dan tidak banyak aktifitas yang dilakukan beberapa turis disini, ooh yaa,,  pada setiap hari minggu selalu diadakan  latihan tarian daerah lho! Ini merupakan tujuan positif karena menurutku melestarikan budaya daerah dan juga agar kebudayaan itu tetap abadi tanpa terhapus dengan modernisasi, kegiatan ini sudah diterapkan sejak beberapa tahun lalu #lupa juga berapa lamanya L menurut mba tourguide. Biasanya tak hanya tarian daerah sebagai pelatihan bagi beberapa penari tapi ada juga tarian modern yang diajarkan. 


Calon Penari
Penari seni Pura Mangkunegara